“Ketika aku gagal, bukan kegagalan itu
yang membuatku kecewa, tapi perasaan tidak mampu, tidak kompeten, tidak diakui,
tidak diterima, dan ditolak. Perasaan
itu terus menyerangku hingga dititik aku ingin lari dari siapapun yang
mengenalku, ingin cepat-cepat melupakkan
kejadian itu, ingin menghilangkan perasaan buruk ini, ingin lari dari dunia ini.
Bersembunyi entah kemana”.
Pengalaman gagal menciptakan perasaan yang
tidak nyaman, seperti rasa kecewa, tidak mampu, marah, menyesal, dan rasa
malu. Kegagalan juga melemahkan keyakinan positif tentang diri kita. Kita
merasa diri kurang pintar, kurang mampu, kurang terampil, kurang kompeten,
kurang menarik, dan sebagainya. Hal ini membuat kita menjadi tidak percaya bahwa
diri kita mempunyai kemampuan tertentu untuk ditampilkan. Hasilnya kita jadi
merasa rendah diri (low self-esteem). Padahal satu kali, dua kali kita
mengalami kegagalan bukan berarti kita adalah orang yang tidak kompeten. Kalau kita bandingkan dengan
keberhasilan yang sudah kita raih, seberapa banyak kita mengalami kegagalan? Mengapa
kita menghabiskan lebih banyak waktu memutar ulang adegan kita gagal
dibandingkan momen kesuksesan kita? sehingga rasa tidak nyaman semakin
meningkat.
Sebagian
besar orang pernah mengalami kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan. Kegagalan
adalah sebuah pengalaman yang pasti dialami oleh semua orang. kegagalan itu
bagian penting dalam proses meraih kesuksesan. Saat belajar berjalan, belajar
naik sepeda, mengendarai motor, tidak langsung bisa pada percobaan pertama. Akan
melalui tahap jatuh, menabrak, salah pegang kendali, bahkan tidak sekali dua
kali tapi bisa berkali-kali jatuh hingga akhirnya mencapai keberhasilan. Proses menerima rasa gagal itu memang tidaklah
mudah, tapi berusaha menerima akan jauh membuat dadamu terasa lebih lega, pikiranmu
lebih luas dan hatimu lebih bahagia. Jadikan pengalaman gagal ini untukmu lebih
mengenal diri dan bertumbuh. Menerima sepenuhnya atas segalanya adalah satu-satunya cara untuk
belajar, tumbuh, dan melangkah maju dalam hidup kita.
Perhatikan gambar di atas. Dari
ilustrasi ini kita bisa menyimpulkan bahwa :
1. Kegagalan
tidak lebih banyak dari keberhasilan.
2. Semakin
banyak kita mencoba, resiko gagal semakin sedikit, karena saat gagal kita belajar.
3. Orang-orang yang mempunyai belief positif, meski gagal dia akan tetap mencoba karena dia yakin bahwa dia akan berhasil.
4. Orang yang sukses dan menjadi master di bidangnya adalah orang yang lebih banyak usaha dan lebih banyak gagal daripada yang sedikit mencoba.
Dr.
Albert Ellis, penemu Rational Emotive
Therapy, mengatakan bahwa kunci dari mental attitude (sikap mental) adalah
keyakinanmu. Keyakinana ini menentukan caramu bersikap (behavior). Peristiwa diluar diri kita baik peristiwa
baik ataupun buruk akan kita temui di dalam perjalanan hidup kita. Katakanlah
peristiwa ini disebut activating events (A).
Pada umumnya masyarakat sering menyalahkan A, yang menyebabkan
penderitaan dan perasaan emosi yang buruk. Khususnya A yang buruk seperti
kegagalan. Perasaan ini disebut Ellis sebagai konsekuensi sikap dan emosi (Emotional And Behavioral Consequencies,
“C”). kebanyakan orang berpikir bahwa :
A
= C
A
= tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara, kalah
dalam pertandingan =
kegagalan.
C
= konsekuensi emosi dan perilaku : merasa tertolak, tidak kompeten,
tidak pintar, tidak diakui, tidak diterima. (padahal bisa saja responnya tidak seperti ini).
A = C
Tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara (gagal) = merasa ditolak, tidak kompeten.
Padahal seharusnya tidak seperti itu. A tidak sama dengan C.
A ≠ c
Kegagalan tidak sama dengan ditolak atau tidak kompeten
Hubungan sebab akibat yang
benar adalah :
A
+ B = C
B
= Personal Belief System. Keyakinan personal.
Keyakinan
ini yang meyebabkanmu memberikan penilaian dan interpretasi tertentu kepada
dirimu.
A
+ B = C (positif)
A
= tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara, kalah
dalam pertandingan.
B
= Belief System = aku punya kemampuan, waktuku akan datang, aku pasti sukses.
C
= ditolak, ketidakmampuan, tidak pintar, tidak diakui, tidak diterima.
Aku merasa bangga terhadap diriku, masa depanku bagus, masih banyak kemampuan
yang aku punya.
A
+ B = C (positif)
Tidak
diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara + Belief System (aku
punya kemampuan, waktuku akan datang) = Aku merasa bangga terhadap diriku, masa
depanku bagus.
Dr.
Ellis mengatakan : "Orang dan hal-hal tertentu tidak membuat kita kesal,
melainkan diri kita sendiri yang membuat kesal dengan mempercayai bahwa orang dna hal di lur diri kita yang membuat kita kesal".
Jadi
yang ditekankan disini adalah personal belief system seseorang. Jika kita punya
belief system yang positif dan kuat. Peristiwa atau kejadian eksternal yang
buruk seperti kegagalan, tidak akan mengubah keyakinan tentang diri kita yang
baik sehingga sikap kita akan tetap optimis dan tetap semangat. Emosi kita akan
tetap positif. Memandang kegagalan bukan karena ketidakmampuan kita, atau kita
tidak pantas untuk menjadi juara tapi kegagalan itu dijadikan pijakan disisi
mana yang harus diperbaiki. Bukan pada keseluruhan bahwa kita tidak mampu, tapi
ada sebagian yang memang perlu ditingkatkan. Kalau kita sudah punya belief
positif tentang diri kita, maka behavior atau tingkah laku kita juga akan
positif. Kejadian-kejadian eksternal yang mencoba melemahkan keyakinan positif kita,
tidak akan berhasil karena personal belief kita sudah mendarah daging, sudah
kokoh sehingga tidak mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman eksternal yang
kita alami atau kita saksikan tersebut.
Kokohnya
belief ini didapatkan dari sejak kecil. Saat orang tua mengatakan bahwa “nak,
kamu pasti akan sukses”. Ini belief yang dimasukkan oleh orang tua. Saat dewasa
ketika anak mengalami peristiwa eksternal seperti kegagalan maka kegagalan itu
tidak meruntuhkan kayakinan dirinya akan kesuksesannya. Sehingga behaviournya
akan pantang menyerah, akan mencoba lagi, belajar lagi, tidak menyalahkan orang
lain maupun dirinya. Masalahnya tidak semua orang tua memberikan keyakinan
positif tentang diri anak kepada anak-anak mereka, bahkan banyak yang justru
menginstal belief-belief negatif kepada anak-anaknya tentang diri anak dan belief
tentang dunia di luar dirinya. Jika pada saat masa pengasuhan, orang tua kita
atau pengasuh kita tidak menanamkan belief-belief positif kepada diri kita,
maka diri kita saat ini yang harus menanamkannya. Mungkin akan lebih sulit, tapi
lebih baik mencoba dan berusaha lebih keras. Jika kita ingin mengubah masa
depan kita, ubahlah keyakinan kita terlebih dahulu. Seberapa kuatkah personal
belief system kita. Seberapa baikkah diri kita meyakini bahwa kita punya kemampuan
seperti halnya orang lain. Sekuat apa kita meyakini bahwa diri ini berharga,
layak untuk dihargai dan diterima. Akan terlihat saat kita mengalami kegagalan.
Apakah kita tetap yakin akan segala kemampuan
yang kita miliki atau justru merasa diri tidak kompeten. Kita akan lebih
mengenal diri sendiri.
Saat
kamu merasa “kalah” dan “gagal”, seolah-olah sulit bagimu untuk melanjutkan
hidup. Ambillah selembar kertas buatlah garis tengah. Di sisi kiri tulis kekuranganmu
dan kegagalanmu. Di sisi kanan tulis kelebihanmu, segala hal yang kamu bisa,
kamu kuasai, kamu punya, sekecil apa pun itu serta pencapaian-pencapaianmu. Jika
kamu benar-benar mengeksplor hal ini seharusnya hal-hal di sisi kanan akan
lebih panjang daripada hal di sisi kiri. Dengan kata lain kelebihanmu jauh
lebih banyak dari kekuranganmu. Hanya saja kita lebih sering fokus hanya pada
kekurangan saja. sehingga sebanyak apapun kelebihanmu, sehebat apapun kemampuanmu
tertutupi oleh pikiranmu yang hanya memikirkan kekurangan dan kegagalanmu.
Kegagalan
hanyalah bagian kecil dari dirimu, sedangkan kamu masih punya banyak kelebihan lain yang belum dieksplor. Satu
dari 10 core belief yaitu “You already posses the ability to excel in at least
one area of your life”. Kuncinya pada kata “at least”, artinya paling tidak
satu kelebihan artinya bahwa kamu bisa punya 2, 3, 10 kelebihan yang kamu
miliki dan harus kamu gali. Satu area dimana kamu gagal mungkin bukan area yang
kamu kuasai.
Kita
adalah sebuah rumah dengan pondasi yang kuat sehingga saat ada gempa dan badai
sekalipun, maka kita akan tetap berdiri kokoh. Kita adalah pohon dengan akar
yang panjang menghujam bumi. Sekuat apapun angin menghantam kita tak akan goyah,
akan tetap kuat berdiri.







.jpg)


